RSS

NGEBOLANG ALA TURIS KERE, part-2 #SILATURAHIM..SILATURAHIM...

PALANG (Rabu, 29 Juli 2015)

Brrrrr... dingin udara pagi begitu menusuk hingga gigipun gemerutuk. Perlahan konvoi empat motor yang baru saja menjemput kami, meninggalkan Stasiun Lawang. Kulirik layar hape sejenak, waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Jalanan begitu sunyi, hanya sesekali melintas bus, truk, colt dan beberapa sepeda motor membawa sayuran dari Pasar Lawang. Ya, Pasar Lawang merupakan salah satu pusat kulakan di daerah pinggiran Kabupaten Malang. Ramai suasana pasar, namun tidak di jalanan.

Tak sampai setengah jam, kamipun telah menginjakkan kaki di sebuah rumah mungil bercat biru. Tak banyak yang berubah dari rumah ini, rumah warisan mertuaku yang kini ditempati adik bungsu beserta keluarganya.

NGEBOLANG ALA TURIS KERE, part-1

SELASA-RABU, 28-29 Juli 2015 (ST. PSR SENEN - ST. LAWANG)

Sepagian ini aku sibuk berkemas, membereskan rumah dan menyiapkan bekal perjalanan semalaman. Jarum jam terasa berdetak amat cepat. Koper belum selesai dibenahi, masakan harus segera diolah, sementara rumahpun masih berantakan bak kapal pecah. Kecepatan berkemas semakin ditingkatkan.

Tepat pukul sepuluh tigapuluh pagi, sebuah koper besar, dua koper sedang, dua tas ransel yang satu penuh amunisi konsumsi selama perjalanan, serta sebuah tas ungu berisikan tiga pasang sepatu sepatu, telah berjejer rapi menunggu tindakan eksekusi selanjutnya.

Tak lama kemudian, sebuah taksi putih yang tergabung dalam GrabTaxi , memasuki gang sempit depan rumah Uti. Ah, jaman semakin canggih. Memesan taxipun kini tak perlu angkat telepon dan menghabiskan pulsa, cukup melalui koneksi internet saja, dalam waktu relatif singkat, taxi dalam posisi terdekat akan segera menghampiri.

Pengamen Monolog nan Eksentrik

ilustrasi
Lelaki bertubuh sedikit gempal, berambut rada ikal, bertopi kupluk, sedikit berewok dan berkulit sawo cenderung kematangan itu, tiba-tiba merangsek ke dalam bis kota yang perlahan melaju meninggalkan terminal bayangan di tepian tol pinggiran ibukota.

Semula sosoknya cukup mengganggu pemandangan, apalagi ketika suara serak berlumpur mulai menyeruak dari bibir hitamnya, ditingkahi gurauan dan tawa yang terkesan dipaksa, mengusik keheningan dalam bis kota.

Diawali tiupan suling yang tak jelas nadanya, dilanjutkan suara ketokan palu bak seorang dalang sedang beraksi, iapun memulai monolog

Rindu Ramadhan

ilustrasi
"... ramadhan tiba..ramadhan tiba...ramadhan tiba..."

Keriuhan lagu Tompi menggema di awal ramadhan. Betapa kerinduan akan bulan penuh rahmat dan ampunan itu, begitu kental terasa. Aura ibadah merebak di mana-mana, bahkan di atas kendaraan dan tempat-tempat umum. Berbagai kajian bertemakan keimanan dan Pesantren Kilat mendadak digelar. Ya, sebulan penuh umat Islam bersuka cita, berlomba-lomba menggapai ridho-Nya semata.

Di sudut kota, kutermangu menyaksikan fenomena ini, ada terselip kerinduan di sana. Rindu saat berbagi hidangan berbuka dengan tetangga, saling memberikan hantaran menjelang lebaran. Rindu gurihnya lontong oncom, berpadu potongan tahu isi yang disiram saus bumbu kacang, menu khas kala berbuka di pinggiran kota. Ah, nikmatnya begitu terasa...

Kastengel Pengobat Rindu

ilustrasi
Kupandangi wajah Ibu, terpancar gurat rindu. Ini tahun keempat lebaran tanpa Kakak. Yah, sejak peristiwa itu, kakak tak pernah lagi menyapa kami, bahkan ketika Ibu sakit seperti ini.

Kutak ingin kesedihan Ibu berkepanjangan. Beragam cara telah kulakukan agar Kakak mau meminta maap pada Ibu. Namun ia tetap bersikukuh dan selalu merasa benar.

Do'a mohon ampun dan mohon kelembutan hati, lirih kudengar dari bibir tua Ibuku. "Ah Ibu, betapa rindunya dirimu menanti si anak hilang".

Kini ramadhan kembali menyapa, Ibu memintaku membuat  kastengel, kue kesukaan kakak. Ibu berharap suatu saat, kakak tiba-tiba berdiri di pintu rumah.

Kastengel ala Ibu terkenal lezat. Kejunya demikian terasa di setiap gigitan. Ada kries-kries keju panggang terselip di sana.

Ah, kastengel Ibu memang selalu membuat kangen. Semoga ramadhan kali ini, semerbak wangi katengel mampu meluluhkan kebekuan hati Kakak dan tergerak untuk kembali menemui Ibu. Semoga...

#RaDal,13ramadhan1436H

BERBURU ILUSTRASI.

Tau gak siiih? Saat yang paling menyenangkan kala menyelesaikan sebuah tulisan adalah BERBURU ILUSTRASI.

Ilustrasi
Ya! Bagi saya, sang penulis pemula, berselancar memasuki ranah tanpa batasan, seolah seperti sedang berkelana di negeri antah berantah tak bertuan walaupun berpenghuni. Menjelajah dari situs yang satu berpindah secara cepat dan acak ke situs yang lain, terkadang bertemu dengan sesuatu yang tak terduga. Terperangkap dalam ruang perbincangan tetangga. Ternga-nga, menyaksikan dahsyatnya sebuah gambar yang berbicara.

#hidayahitumahal (Ketika Hidayah Menghampiri - part 2)



ilustrasi
Hastag  #hidayahitumahal berkali-kali tertulis, mengakhiri setiap kisah yang terlontar malam itu. Bergantian kami saling curhat-curhatan tentang awal keputusan besar untuk berhijab, menyempurnakan keimanan.

Ya, kami sekumpulan emak-emak yang sok sibuk di kala siang, namun selalu menyempatkan diri berbagi ilmu dan inspirasi di keheningan malam, saat kewajiban rumahtangga tuntas tertunaikan. Beruntung kemajuan teknologi mampu mengatasi kendala ruang dan waktu.
-----------------------------