RSS

“CINTA TANPA SYARAT. Jembatan Hati antara Orangtua dengan Anak”

BOOK REVIEW

Judul Buku: “CINTA TANPA SYARAT. Jembatan Hati antara Orangtua dengan Anak”
Pengarang: Fitri Restiana
Penerbit: Anugerah Utama Raharja (AURA), Maret 2016
Jumlah Halaman: xvi + 136 halaman

Cinta hal absurd yang dianugerahkan Sang Maha Pecinta pada setiap manusia.  Cinta tak menuntut balas dan cinta tanpa syarat, itulah cinta yang dicurahkan seorang Ayah dan terutama Ibu pada buah hatinya.

“Seteru 1 Guru. Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto: Soekarno-Musso-Kartosoewirjo”

BOOK REVIEW


Judul Buku: “Seteru 1 Guru. Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto: Soekarno-Musso-Kartosoewirjo”
Pengarang: Haris Priyatna
Penerbit: Qanita, April 2015
Jumlah Halaman: 243 halaman

Terkadang, sejarah perjalanan sebuah bangsa lebih menarik jika disampaikan dalam bentuk novel. Di sinilah kepiawaian seorang penulis diuji.  Ia dituntut untuk mampu menuturkan kisah dengan jujur apa adanya, bukan sesuai pesanan penguasa.  Tokoh utama, intrik, konflik dan alur cerita yang membangun kisah harus dikemas sedemikian rupa, tanpa mengubah inti sejarah aslinya.

Haris Priyatna yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi di Penerbit Mizan dan Penerbit Salamadani, kolomnis dan penulis artikel di berbagai suratkabar ini, mampu menghadirkan pergulatan tiga tokoh yang pernah mewarnai sejarah Indonesia melalui sebuah narasi apik nan hidup dan menyentuh.

“SETERU 1 GURU”, novel tentang pergulatan sejarah anak bangsa, Soekarno-Musso dan Kartosoewirjo. Kisah tiga sahabat yang pada suatu masa pernah berguru pada satu  sumber yang sama, namun  harus berseberangan jalan demi pemahaman ideologi  yang berbeda, konon untuk mencapai satu tujuan  “bangsa yang merdeka”.

HOS Tjokroaminoto, sang guru bangsa dan pemilik indekos di jalan Peneleh gang  VII-Surabaya, merupakan tokoh sentral dalam pembinaan jiwa kebangsaan dan kepedulian politik tiga sahabat ini. Namun, seiring berjalannya waktu dan pendewasaan diri, masing-masing memilih jalan kehidupan yang akhirnya membuat perseteruan sengit di antara mereka dan berakhir tragis.

Novel ini terdiri dari tiga bab, yaitu: Kemelut, Internaat dan Kulminasi. Di setiap bab, berlompatan kisah dari ketiga tokoh tersebut, dihiasi benang merah dari Harun, seorang pengusaha Batik di kota Solo,  yang di akhir novel kembali hadir untuk menyimpulkan kisah ketiga kenalannya itu.    

Novel ini juga dihiasi dengan beberapa ilustrasi sebagai penguat cerita. Mulai dari foto bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah, peta kota Soerabaja jaman dulu, peta pelarian PKI dari Madiun, lembaran koran Oetosan Hindia –corong Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto-, teks proklamasi NII yang ditandatangani Imam NII Kartosoewirjo, hingga foto Musso saat bersama Bung Karno, foto jenazah Musso, serta foto Kartosoewirjo saat ditangkap dan siap dieksekusi di Pulau Ubi, juga foto beberapa tokoh lain yang terlibat di dalam kisah penuh gejolak ini.
-------------------

MELIA dan SEPATU RODA

Salah seorang teman Melia, Hafidz namanya, adalah seorang atlet sepatu roda. Suatu hari, Ayah Hafidz menawarkan Melia untuk belajar sepatu roda. Melia antusias sekali dan langsung cerita ke Ayah soal keinginannya belajar sepatu roda dan tawaran Ayah Hafidz tersebut.

Ternyata Ayah Hafidz bukan hanya menawarkan Melia untuk belajar sepatu roda, beliau menghadiahi Melia sepasang sepatu roda lengkap dengan pelindung tubuhnya, meski tanpa helm. Ayah Hafidz berpesan, beli saja helm pesepeda yang banyak dijual di toko.

Melia tahu, Ayah tak punya cukup uang untuk membeli helm pesepeda yang harganya lumayan mahal itu. Namun,  melihat keinginan Melia untuk belajar sepatu roda yang sangat tinggi, sore itu Ayah mengajak Melia ke pusat pertokoan untuk memilih helm yang dibutuhkan. Akhirnya, diperoleh sebentuk helm dengan harga yang cukup menguras dompet ayah. Dalam hati Melia berjanji untuk bersungguh-sungguh belajar sepatu roda. Melia tidak ingin mengecewakan Ayah yang telah berkorban banyak untuk dirinya.

BATU SECRET ZOO.... Rahasia yang Terkuak #Ngebolang ala Turis Kere-part-9

Jum’at (7 Agustus 2015)

Tak terasa, tiga jam waktu yang dihabiskan di Eco Green Park tadi, kini hanya tersisa dua setengah jam untuk menyusuri Batu Secret Zoo, sebelum kami bergegas turun ke Malang. Kereta  Matarmaja yang akan ditumpangi, dijadwalkan berangkat pukul 17.00 wib. Tutik sang pemilik mobil, menyarankan kami kembali sebelum pukul 15.00. Okey, siap!!!
Kehadiran kami di Batu Secret Zoo disambut sepasukan kelelawar yang sedang menikmati santap siang. Serunya, pengunjung diperkenankan menyuapi mereka dengan buah potong yang tersedia di pagar kandang. Rakus sekali, saling berebut minta disuapi. Aah kasihan, ada seekor kelelawar yang selalu tersisihkan oleh teman-temannya. Hingga suapan terakhir, tak sepotongpun yang berhasil didapatkan, walau sudah kami arahkan kepadanya.

ECO GREEN PARK, Bukan Ekowisata Biasa!!! #Ngebolang ala Turis Kere-part-8

Jum’at (7 Agustus 2015)

Aaahhh, segarnya pagi ini, udara dingin tak terlalu menusuk kala aku dan Pia berjalan pagi menyusuri jalanan sekitar hotel . Tak lama melangkah, kami tiba di parkiran BNS (Batu Night Spectaculer) yang terkenal itu. Wahana serupa bisa kami temui di banyak obyek wisata seputaran Ibukota, kecuali Taman Lampionnya, jadi BNS bukan destinasi kami saat ini. Tapiii, biar gak penasaran, boleh dooonk ngintip dikit, sembari jeprat sana sini dulu. J
Usai sarapan pagi seadanya (beneran seadanya), tadi pas jalan pagi gak nemu jajanan khas kota Malang, kecuali Ote-ote dan aneka gorengan, kami bersiap diri menuju Jatim Park-2. Berdasarkan rekomendasi petugas hotel, lebih baik ke sana daripada Jatim Park-1, karena aku menginginkan wisata edukasi bukan sekedar wisata permainan. Maka, segera kami berkemas dan check out.

Saat membeli tiket, aku baru tahu kalau kami bisa mengunjungi tiga tempat sekaligus, yaitu Museum Satwa, Batu Secret Zoo dan Eco Green. Ternyata, hari Jum’at sudah termasuk weekend, hingga tiket yang dihari biasa 75 ribu rupiah, harus ditebus seharga 90 ribu rupiah, plus 10 ribu untuk tiket terusan ke Eco Green. Jadilah 400 ribu melayang (padahal ada promo jika membayar menggunakan Debit BCA diskon 20%, namun entah kenapa petugas menyatakan tidak ada promo, padahal jelas terpampang di brosur..weleh..weleh)

MUSEUM ANGKUT KOTA BATU.. Tak Cukup Jika Hanya Sekali!!! #Ngebolang ala Turis Kere-part-7

Kamis (6 Agustus 2015)
Sie..sie...
Sesampai di rumah, aku langsung mencuci seluruh pakaian kami yang penuh debu halus dari gunung Bromo. Semoga pagi sudah kering dan siap untuk dipacking ke dalam koper. Kunjungan kami di Jawa Timur hampir berakhir, sehingga sisa rencana liburan dilakukan maraton. Esok tujuan kami ke Malang, untuk selanjutnya menginap di kota Batu. 

BROMO... WE’RE COMING-2!!! #Ngebolang ala Turis Kere-part-6

Rabu, 5 Agustus 2015

Bromo dipandang dari halaman Hotel Lava View
Usai mandi pagi, kami sarapan dengan menu yang mengingatkan pada masakan ibuku berupa sop sayuran, telur dadar berisikan irisan bawang merah dan daun bawang serta tempe goreng, dilengkapi secangkir teh hangat manis. Benar-benar menjadi bekal penuh nutrisi bagi kami untuk memulai petualangan menjelajahi Kawah Bromo.