T.I.K.U.S...Tikus...
Iiihh...ngapain sih ngajak ngobrol soal binatang yang sangat menjijikkan dan menyebalkan ini?? Gitu kali ya, komen temen2?? hehehe... Sebenernya saya terinspirasi ketika melihat sebuah tayangan di "planet animal" tentang TIKUS...
Iya...tikus... alias mouse...
"S.I.S.I.R"
Diposting oleh
gina hendro
on Jumat, 09 Desember 2011
Label:
renunganku
/
Comments: (0)
“Iya…eS iI eS iI eR…SISIR!!”. Hallooo….kurang kerjaan amat yak??”
Tentu itu hal pertama yang
terlintas di benak, kala membaca judul obrolan kita kali ini.
Eits…jangan apriori dulu. Ide
cerita ini kudapatkan tiba-tiba kala melihat seorang bapak paruh baya
menyisir rambutnya di tengah antrian pasien di rumahsakit.
Tidak ada yang istimewa dengan
sang bapak, juga dengan sisirnya. Namun dari ketidak istimewaan itulah,
tiba-tiba aku teringat dengan ayahku. Yaa…gaya ayah kala bersisir dan jenis
sisir yang digunakan. Tidak pernah
berubah dari semenjak ku kecil hingga kini ku sudah mempunyai anak kecil.
Gerakan menyisir dari arah depan ke belakang dengan tangan kanan yang diikuti tangan kiri untuk merapikannya. Demikian berulang-ulang dilakukan, hingga akhirnya dirasakan sisiran rambutnya telah rapih.
Gerakan menyisir dari arah depan ke belakang dengan tangan kanan yang diikuti tangan kiri untuk merapikannya. Demikian berulang-ulang dilakukan, hingga akhirnya dirasakan sisiran rambutnya telah rapih.
Dahulu ayah selalu menggunakan minyak rambut dengan merk yang terkenal kala bersisir di pagi hari… hmmm…wangi khasnya tiba-tiba terbayang di benakku.
Sisir kecil berwarna hitam,
terkadang juga berwarna hijau tua atau coklat tua, tetapi lebih sering ya si hitam itu, selalu menemani kemanapun
ayah pergi. Obat ganteng istilah anak sekarang.
PRAMUDYA...part 4
Pramudya, kala kukenal pertama
kali, adalah sosok pendiam berkacamata, hitam manis dan jika berbicara agak
gagap.
“Bo…boleh gak aku pinjem
catatanmu?”, pintanya seraya menghampiri.
Saat itu aku sedang berkemas-kemas pulang setelah bel berdentang tanda
jam pelajaran usai.
“Boleh, tapi apa kamu bisa baca
tulisanku?”, candaku
“Y...yaa… ka..kalo gi..gi..gitu,
sekalian de…dengan kamusnya de..deh…”, ucapnya tergagap
“Ah, aku becanda koq… Nih ambil,
tapi jangan diilangin yaa… ini barang langka, gak ada catatan sekomplit punyaku
loo”, selorohku.
“Ju…justru itu, aku jadi pengen
pi…pinjem ca..catatanmu”, kilahnya sambil tersenyum. Ah senyuman termanis dari seseorang yang
selama ini kukagumi diam-diam.
Duapuluh lima tahun kemudian, di
saat kami berdiskusi di YM, masalah kegagapannya itu sempat terlontar secara
tak sengaja.
PRAMUDYA...part 3
“AWW…”, kursor di layarku
berkedip-kedip. Kirim gak yaa?? Pikirku
ragu. Ah, biarin deh, ada yang lagi
pengen kutanyain, debat batinku, kala kulihat statusnya online di Blackberry Mesengger.
“Apa tuh AWW?”, balasnya tak lama
kemudian.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
pa kabar akhy?”, timpalku cepat
“Bi khoir wal hamdulillah bi
rahmatillah. Nah gitu dong, kalo nyapa
seseorang harus lengkap, jangan disingkat, karena itu merupakan do’a”, balasnya
Subhanallah…selalu jawabannya
terkadang membuatku tergagap.
“Ada yang mau ditanya, boleh?”,
pintaku memelas
“Boleh”, jawabnya ringkas
PRAMUDYA...part 2
“Tumben gak pake lam lekum”,
tegurnya.
“Assalaamu’alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuuh wak hajiii…”, sapaku kembali
“Wa’alaikum salam warahmatullahi
wa barakatuh, apa kabar??”, jawabnya seraya membalas salamku
“Bi khoir wal hamdulillah, berkat
do’a akhy juga”, balasku berbunga-bunga.
Itulah kebiasaannya setiap kami
memulai sebuah perbincangan, selalu menanyakan kabarku, entah hanya sekedar
basa basi yang sudah basi atau memang dia cukup peduli dengan keadaanku,
entahlah hanya dia dan Allah lah yang tahu jawabnya.
PRAMUDYA...part 1
Tiba-tiba BB-ku menampilkan pesan
singkatnya. “Hah, tumben dia BBM aku…ada apa gerangan?”, pikirku sepintas,
sebelum akhirnya kubalas BBM-nya “Lom sempet. Aya naon??”
“Pengajuan aplikasi beasiswa buat
mahasiswa UGM, anaknya penjual martabak”, balasnya.
“Ok. Insya Allah, ntar kulihat”,
tulisku dan langsung ku pencet tombol enter…
“Tolong usahakan disetujui yaa…”,
pintanya kembali
“Iya, sabar…do’akan saja si anak
memenuhi syarat pengajuan beasiswa. Lagian
kamu ngajuinnya mahasiswa sih, kemaren kan aku bilang buat anak SD/SMP”,
timpalku
“Yah…namanya juga usaha ”, balasnya.
Aaah…percakapan yang sangat
singkat, namun sempat menggetarkan hatiku walaupun isinya serba formal. Yaa…dialah my firstlove berpuluh-puluh tahun
yang lalu dan karena kecanggihan teknologilah, yang mempertemukan kami kembali.
"Nandaku, Amir tersayang..."
Diposting oleh
gina hendro
on Senin, 13 Juni 2011
Label:
coretanku tuk nanda amir
/
Comments: (0)
Nandaku, Amir tersayang...
Ketika kemarin dirimu mendatangiku sambil memegang sepucuk surat, betapa kala itu hatiku bergetar haru...
Surat itu berisikan pengumuman kelulusanmu dari sekolah menengah pertama, tempat dirimu telah menimba ilmu tiga tahun ini. Tak diyana dan tak diduga, segala puji tercurah bagi Sang Pemilik Kuasa, nandaku Amir mampu mengalahkan ratusan teman-temannya yang normal dengan meraih nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolahnya dan Nilai Akhir kedua, yang hanya berselisih angka 0,05 dengan sang jawara.
Subhanallah nak...tiada kata yang sanggup ummi mu lantunkan, selain ungkapan syukur dan haru, betapa usaha kerasmu selama ini tidak sia-sia. Maafkan ummi yang selama ini selalu cerewet menegur dan mengingatkanmu, kala ummi melihat dirimu bersantai santai sambil asyik tenggelam di dunia maya. Maafkan pula ummi, kala harus menghukummu dengan menyita hpmu selama seminggu, karena ummi cemas dirimu tak mampu berkonsentrasi penuh pada materi yang diujikan di UN...
Dan kini, semua jerih payahmu telah dituai... Bersujud syukurlah nak, kepada Ilahi Robbi, yang telah memberikan lebih banyak kelebihan dibalik segala kekurangan yang kamu miliki....




