RSS

AYAH GALAU

illustrasi: rizto.blogspot.com
"Hati-hati Nak, jaga diri baik-baik", pesan Ayah sesaat sebelum melepas kepergian Chacha di bandara Soeta. Walau tampak tegar, namun sebenarnya Ayah merasa sangat kehilangan. Berbagai pikiran berkecamuk, dipendamnya dalam-dalam.
...............

Hari ini, Chacha harus mengucapkan selamat berpisah kepada sang Ayah. Esok hari pertama ia menginjakkan kaki di kampus tercinta. Hidup berpisah jauh dari orangtua akan dilakoninya. Semua demi menggapai asa dan cita.

Hubungan Chacha dan ayah memang sangat dekat. Mereka bak dua sahabat. Kemanapun Chacha pergi, ayah siap menemani. Ayah asyik buat diajak curhat-curhatan, maen perang bantal, nobar, sekedar nongkrong cari camilan dan berjuta kegiatan bersama. Hampir tidak ada rahasia di antara mereka. Sebagai anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, Chacha memang putri kebanggaan ayah.

Wajar jika ayah sangat gelisah, ketika mengetahui putri semata wayangnya akan pergi jauh meninggalkan dirinya. Berhari hari ayah tak bisa tidur, terbayang bagaimana jika nanti di sana Chacha mengalami kesulitan beradaptasi dan beratnya melalui hari-hari perjuangan sebagai mahasiswa baru. 

Ah, kamu pasti bisa mengatasinya, Nak”, batin ayah. Tapi, di satu sisi kekhawatiran ayah tak dapat ditepis  jua.

Sebuah perasaan yang wajar dan tentulah biasa dialami oleh berjuta ayah-ayah lainnya di dunia. Apalagi jika hubungan ayah dan anak perempuannya sangat dekat dan hampir tak berjarak. Perpisahan seminggu, serasa bertahun lamanya.

Perasaan terberat, justru sebenarnya datang dari diri ayah sendiri. Dia membayangkan, betapa sepinya hari-hari tanpa Chacha di sisi. Walaupun masih ada dua anaknya yang lain, namun kedekatan ayah dan Chacha tak ada yang menandingi. Hobi yang sama, makanan kesukaan juga tak beda, bahkan gaya bicara dan penampilan mereka benar-benar bak pinang dibelah dua. Ayah dipakein rok, itulah istilah yang pas buat Chacha. 
...............

Ayah galau, jamak adanya. Lebih parah jika ayah tidak peduli dengan putrinya. Sang putri pulang malam, ayah tak pernah menanyakan alasan. Sang putri bergaul dengan siapa, ayah tak tahu apa-apa. Putri berdandan nyeleneh, ayah tak pernah menoleh palagi menegurnya. Hingga suatu ketika, ayah terpana, ternyata sang putri telah berbadan dua, tanpa diketahui siapa penanam benihnya.

Duhai para ayah, ingatlah pesan Allah “Jagalah diri dan keluargamu dari siksa api neraka, yang bahan bakarnya manusia  dan batu...“ (at tahrim:6).  Bahkan, secara khusus Allah telah memberikan rambu-rambu pendidikan anak oleh ayah, dalam surat Luqman 12-19.

Jangan sampai para ayah menjadi “Ayah ada, ayah tiada”. Tiap hari ayah dan anak bertemu, namun tak pernah ada komunikasi.  Ayah sekedar memenuhi kewajibannya mencukupi kebutuhan ekonomi, namun tak pernah menanyakan keadaan si anak hari ini. Siapa teman-temannya. Kesulitan apa yang dihadapinya. Bantuan apa yang bisa ayah berikan. Bagaimana pergaulan dengan lawan jenis dan sebagainya.
...............

Tak terasa, bandara Soeta sudah di depan mata. Sepanjang perjalanan, pikiran ayah sering melayang. Kenangan  demi kenangan bersama Chacha, berkelebat di depan mata. “Ah, putri kecilku kini beranjak dewasa. Aku harus ikhlas dan rela melepaskannya. Hanya do’a terpanjatkan senantiasa. Semoga bekal moral yang telah kutanamkan, cukup adanya.”

Terbayang di benaknya, sekian tahun lagi, ia harus lebih ikhlas melepaskan sang putri semata wayang bersanding dengan jodoh sejatinya.  Tentu perpisahan yang lebih berat dirasa. Barangkali beginilah perasaan setiap orangtua, saat melepas anaknya terbang menggapai impian. Antara ikhlas dan kekuatiran.


Radal (26’06’14). 01.46

2 komentar:

myra anastasia mengatakan...

perasaan ayah sebetulnya sama aja dengan perasaan seorang ibu, ya. Cuma ayah suka gak ditunjukkan terang2an

Teh Aisy mengatakan...

bener banget mak Myra...ayah sok cool, padahal hatinya hancur...hehe

Posting Komentar