RSS

Cuma Sebatang, koq...


Aku celingak celinguk di depan Mesjid .

” Ah sudah sepi, kemana tuh anak pergi”.

“Bang, lihat Tino?”

“Tuh”, jawab pedagang roti sembari memberi kode ke arah tukang nasi goreng.

Akupun terbelalak kala Tino muncul dengan santainya sembari memegang sebatang rokok menyala.

“Matikan! Ibu menunggumu!”

Tanpa rasa bersalah, Tino langsung naik ke boncengan dan menemui ibunya yang tergolek lemah. Kanker merenggut kebahagiaannya bermain bersama sang putra penderita down sindrom.

Baju Barbie itu...

“Nak, sini duduk dekat Ibu”, pintaku pada Nina putri semata wayangku yang sedang asyik bermain tanah di halaman rumah. 

“Nak, Ibu mau ke pak Haji Masyur, orang kaya yang suka bersedekah itu sebentar ya. Ibu mau mengambil uang pemberian pak Haji buat kita berlebaran. Nina gak usah ikut, Ibu kuatir nanti kamu terinjak-injak dan sesak nafas didorong-dorong banyak orang. Do’akan Ibu cepat kembali.”, pamitku sebelum melangkah menuju rumah pak Haji Mansyur yang terkenal dermawan dan setiap tahun selalu membagi-bagikan sedekah untuk ratusan warga kurang mampu di sekitar rumahnya.

Kisah Nasi Sekotak


“Bu, aku pergi ke Mesjid dulu ya. Sebentar lagi adzan magrib”, pamitku pada Ibu setelah memastikan kondisi beliau baik-baiksaja.

Ibu menganguk lemah sambil terbatuk –batuk dari atas pembaringan. Sudah setahun ini Ibu hanya mampu tergolek saja. Sel kanker yang menggerogoti paru-parunya begitu ganas dan kami tak mampu berobat ke dokter apalagi ke rumah sakit. 

Untuk makan, aku harus memulung gelas dan botol plastik sejak jam dua dini hari. Urusan sekolah? Ah, sudah tak terpikirkan lagi. Bagiku, merawat Ibu lebih penting daripada bersekolah dan bermain bersama teman-teman.