RSS

Kisah Nasi Sekotak


“Bu, aku pergi ke Mesjid dulu ya. Sebentar lagi adzan magrib”, pamitku pada Ibu setelah memastikan kondisi beliau baik-baiksaja.

Ibu menganguk lemah sambil terbatuk –batuk dari atas pembaringan. Sudah setahun ini Ibu hanya mampu tergolek saja. Sel kanker yang menggerogoti paru-parunya begitu ganas dan kami tak mampu berobat ke dokter apalagi ke rumah sakit. 

Untuk makan, aku harus memulung gelas dan botol plastik sejak jam dua dini hari. Urusan sekolah? Ah, sudah tak terpikirkan lagi. Bagiku, merawat Ibu lebih penting daripada bersekolah dan bermain bersama teman-teman.

Setelah menyalami pak Ustadz, akupun duduk rapi mengikuti barisan para jama’ah yang sedang bersiap berbuka puasa bersama. Sudah menjadi kebiasaan, setiap Ramadhan tiba mesjid ini selalu menyediakan hidangan berbuka untuk jama’ahnya.  Akupun tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekotak nasi berlaukkan ayam bakar, menjadi hidangan yang teramat mewah bagiku. Sering aku sengaja tak memakannya sebelum Ibu menikmati terlebih dahulu.

Hujan mulai turun saat shalat magrib usai ditunaikan. Namun, aku tak bisa berlama-lama di Mesjid, ingatanku selalu pada kondisi Ibu. Apakah ia baik-baik saja? Kemarin rumah kami sempat bocor di beberapa bagian, aku khawatir Ibu kedinginan kecipratan air bocoran.

Segera kubergegas menuju rumah kardus kami, nasi kotak kupeluk erat, kulindungi dengan segenap hati. Namun, tanpa kusadari sebuah motor menghampiriku dengan kecepatan tinggi. BRAK! Ah, betapa ringan terasa langkahku kini, tanpa kuperlu berlari. Namun... Oh tidaaak!!! Kumelihat nasi berhamburan dari sebuah kotak, di samping sesosok tubuh yang terbujur kaku. Betapa aku mengenali tubuh itu... Tubuhku sendiri... 

RaDal (AkhirRamadhan1437H, 15’56)   


0 komentar:

Posting Komentar