RSS

BROMO... WE’RE COMING-2!!! #Ngebolang ala Turis Kere-part-6

Rabu, 5 Agustus 2015

Bromo dipandang dari halaman Hotel Lava View
Usai mandi pagi, kami sarapan dengan menu yang mengingatkan pada masakan ibuku berupa sop sayuran, telur dadar berisikan irisan bawang merah dan daun bawang serta tempe goreng, dilengkapi secangkir teh hangat manis. Benar-benar menjadi bekal penuh nutrisi bagi kami untuk memulai petualangan menjelajahi Kawah Bromo.

Matahari mulai menampakkan sinarnya, kupacu Espass dengan kecepatan sedang meninggalkan kota Probolinggo setelah sebelumnya berpamitan dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada mbak Ani yang telah direpotkan oleh kedatangan kami yang mendadak semalam.

pemandangan ladang sayur terbentang sepanjang perjalanan menuju Bromo
Lalu lintas belum terlalu ramai. Kami mulai menyusuri punggung bukit. Seperti dugaanku, jalan yang kami lalui sangat mulus, menanjak namun tak terlalu curam serta berkelak-kelok namun tak terlalu tajam.  Sepanjang jalan aku mengajak anak-anak bertasbih setiap menyusuri jalan menurun dan bertahmid ketika menyusuri jalanan yang menanjak. Aku berusaha menenangkan diri, karena kurang yakin dengan keadaan kendaraan yang kukemudikan ini, cukup fit atau tidak untuk diajak naik gunung.

Dua kali aku salah mengambil jalan akibat kurang waspada membaca rambu yang ada. Hingga suatu ketika, kekhawatiranku akhirnya berwujud juga. Di saat aku mundur dan mencoba berbalik arah, tiba-tiba mesin mobil mati. Agak sulit menyalakannya kembali. Perlahan kutarik nafas, berusaha berfikir jernih dan tetap melantunkan segala do’a yang mampu kuingat. Kumulai langkah awal menyalakan kendaraan, hidupkan stop kontak-tekan gas-tekan kopling-masukkan persneling dan mulai melepaskan kopling pelan-pelan sembari melepaskan rem tangan dan rem kaki bersamaan. Alhamdulillah, ujian pertama terlampaui.

Ketika nyasar di tikungan berikutnya, aku lebih memilih mencari tempat agak luas untuk berbalik arah. Alhamdulillah, tak mengalami kendala berarti seperti di tikungan sebelumnya.
----------------------------------
Pikiranku sesaat terlempar ke tahun 1998, saat itu Bapak Mertua sedang dirawat di rumah sakit Lavalete di kota Malang. Aku diberi kepercayaan beliau untuk mengendarai kendaraannya. Iseng, kubawa Amir yang masih bayi, beserta dua orang ponakan dan Wawoek adik bungsu si Mas jalan-jalan ke Air Terjun Coban Rondo. Selain jalanannya menanjak lumayan terjal, rupanya kendaraan carry tua milik bapak mertua tak mampu mengatasinya dan mesin tiba-tiba mati di saat aku sedang berusaha menyalip sebuah kendaraan lain yang kunilai berjalan terlalu lambat di depanku.

Perlahan si carry meluncur turun walaupun  aku sudah berusaha menginjak rem sekuat tenaga, serta menarik rem tangan ke atas semaksimal mungkin. Kakiku sudah bergetar lemas tak keruan, mulut rasanya tak berhenti melantunkan do’a, namun mesin tak jua menyala dan carry terus meluncur. Beruntung di belakangku tak ada kendaraan lain, karena ternyata aku salah memilih jalur pendakian. Harusnya aku berbelok mengikuti jalur yang lebih landai. Namun, karena tak mengenal medan akhirnya aku memasuki jalur yang lebih terjal.

Hingga akhirnya kuputuskan berbalik arah ketika menemukan pertigaan itu kembali. Namun... perhitunganku meleset. Ketika sedang berputar arah, roda kiri belakang carry masuk ke dalam parit yang lumayan dalam, beruntung bukan jurang. Buru-buru kami turun dan berharap ada kendaraan lain lewat dan bersedia membantu. Rintik hujan mulai membasahi kami, namun tak tampak seorangpun di kejauhan.

Setengah putus asa, kuterus panjatkan do’a, hingga akhirnya ada sebuah kendaraan umum berhenti. Beberapa penumpangnya turun dan beramai-ramai mengangkat roda carry yang sempat masuk ke parit itu. Alhamdulillah, nyawa kami masih selamat dan si carry baik-baik saja. Tanpa sempat mengucapkan terimakasih, para bapak penolong telah menghilang dari pandangan.

Inilah hari terakhir aku bertemu Sang Bapak Mertua, karena sorenya aku kembali harus memacu si Carry, kali ini menuju kota Malang membawa serta adik serta besan Bapak Mertuaku menuju rumah sakit di Malang untuk menjenguk beliau. Namun takdir berkata lain, di saat adzan magrib berkumandang, aku mendapatkan kabar bahwa Bapak Mertua telah berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Maafkan kami tak sempat menemuimu Bapak, karena sesaat sebelum kepergianmu, Amir yang waktu itu berusia 2 tahun menangis tanpa sebab yang jelas dan tak mau berhenti, hingga aku harus menjauh dari kamar Bapak dirawat.
----------------------------------
Hampir dua jam, tibalah kami di Cemoro Lawang. Kedatangan kami disambut oleh dua gerbang Taman Wisata Bromo. Di gerbang pertama kami diminta membayar tiket masuk seharga Rp 5.000,00 per orang. Walaupun kami berlima, namun dihitung hanya bertiga sebab Haqi dan Pia dianggap masih anak-anak. Jadi total yang harus kubayarkan Rp 20.000, berikut tiket untuk 1 mobil.

Ketika petugas loket sedang menghitung jumlah yang harus kami bayar, tiba-tiba dari balik jendela muncul kepala seorang lelaki kurus hitam dengan pakaian khas Bromo, sarung dan Kupluk di kepala sebagai penghilang rasa dingin. Ternyata beliau menawarkan sewa jeep seharga Rp 200.000,00 untuk perjalanan menuju Kawah Bromo.  Akupun berinisiatif menawar untuk melakukan perjalanan lebih jauh, selain ke Kawah Bromo juga ke Bukit Teletubies, Padang Savana  dan Pasir Berbisik. Akhirnya disepakati harga yang harus kukeluarkan Rp 350.000,00 untuk menyewa sebuah jeep dengan kapasitas 5 penumpang.

Sebelum berpindah kendaraan kami melanjutkan perjalanan sejenak menuju Hotel Lava View, masih di Lingkungan Cemoro Lawang. Ternyata kami harus melalui sebuah gerbang lagi yang kali ini mengaku sebagai Pengelola Taman Wisata Bromo. Ketika aku protes dan menyatakan sudah membayar di gerbang sebelumnya, mereka mengatakan bahwa di gerbang pertama itu retribusi daerah. Akhirnya berpindahlah dua lembar uang kertas senilai Rp 70.000,00 ke tangan mereka, padahal tarif yang dikenakan hanya Rp 62.500,00. Namun hingga kepulangan kami, sisa uang kembalian tak kunjung didapat, dengan berbagai alasan.  Yah sudahlah, akhirnya aku mengikhlaskan sambil setengah gondog.

Espass pinjaman kuparkir di halaman Hotel dan kami segera berpindah ke jeep yang dikendarai oleh Pak Besek, sang supir yang menawari kami di gerbang pertama tadi.
----------------------------------
Petualangan dimulai...

Kabin jeep yang pas untuk empat penumpang duduk berhadapan
Di kejauhan tampak lautan pasir membentang, di tengah-tengahnya tampak sebuah gunung mirip batok dan sebuah kawah membentang, perjalanan nan penuh guncangan dan sensasi mulai kami rasakan. Memasuki lautan pasir, beberapa pengendara kendaraan roda dua terlihat susah payah mengendalikan laju motornya, terseok-seok dan tak jarang terjatuh karena medan jalan memang lebih cocok dilalui motor trail, daripada motor matic.

Jeep mulai melewati pembatas kawasan kawah Bromo, tak lama kemudian memasuki area parkir. Hanya ada lima jeep yang terparkir, barangkali pengunjung sudah pada kembali ke penginapan setelah semalaman begadang di Penanjakan lanjut ba’da subuh langsung ke kawah Bromo. 


Para penunggang kuda di Bromo
Beberapa tukang kuda tunggang mendekati kami dan menawarkan jasa membawa kami mendekati kawah dengan menunggang kuda, biaya yang diminta Rp 75.000,00 pulang pergi. Kami sudah berniat melakukan petualangan, maka dengan sopan kami tolak tawaran menarik itu. Pia bahkan berkata "aku harus sanggup sampai atas!" dan Haqipun dengan penuh semangat mendahului kami mencapai kawah. 

Kala badai pasir menyerang
Jalur pendakian menuju anak tangga
Mejeng sejenak dengan latar belakang Gunung Batok
Di kejauhan (kanan atas), tampak deretan anak tangga menuju Kawah Bromo
Lumayan jarak yang harus kami tempuh antara tempat parkir hingga batas bawah anak tangga menuju kawah Bromo.  Perjalanan yang tak mudah, karena badai pasir setiap saat siap menyerang, walaupun bersifat sesaat, tak sampai lima menit namun dengan intensitas cukup sering. Benar-benar mengganggu.
Pura suku Tengger dilihat dari Puncak Bromo
Sebelum mencapai anak tangga, kami melewati sebuah Pura tempat peribadatan suku Tengger. Suku Tengger adalah masyarakat Hindu yang tinggal di sekitar kawasan Bromo. Konon sejarah mereka bermula ketika kerajaan Mojopahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto mulai runtuh. Masyarakat Mojopahit lari ke arah timur hingga ke Bali. Tak semua sampai ke Bali, sebagian diantaranya menetap di kawasan Bromo. Dalam legenda masyarakat mereka juga adalah keturunan Roro Anteng dan Joko Seger. Masyarakat Tengger mempunyai hari raya yang bernama Kasodo. Pada hari itu masyarakat Tengger mempersembahkan hasil bumi ke kawah gunung bromo sebagai rasa syukur.  https://carakapurwa.wordpress.com/2010/11/20/joko-seger-dan-roro-anteng/

Upacara "buang sajen"
Aneka penganan sebagai sajen
Beruntung kami sempat menyaksikan upacara “buang sajen” yang dilakukan sebuah keluarga suku Tengger, sebagai wujud rasa syukur mereka atas hasil panen tahun ini. Usai melakukan upacara “buang sajen”, yang diawali dengan membakar dupa, kemudian memanjatkan do’a, dilanjutkan melemparkan dua ekor ayam (yang balik lagi ke atas), serta beberapa  uang kertas dan koin. Akhirnya mereka pun meninggalkan barang sesajen di pinggir kawah dengan pesan kami boleh membawanya pulang, karena mereka sudah ikhlas menyerahkannya. Ada sesisir pisang, beberapa lembar uang limaribu hingga sepuluh ribu, sebungkus rokok, sebungkus nasi dengan lauk pauk, beberapa bungkus mie instan dan beberapa bungkus kue, itulah paket sesajen mereka. Iseng kami membawa beberapa barang tersebut pulang. Mubazir jika ditinggalkan begitu saja.
Kawah Bromo, sayang banyak sampah


jejeran anak tangga menuju kawah Bromo
Sebenarnya, jalur pendakian ke kawah Bromo tidaklah sulit, setelah melewati lautan pasir, perjalanan mulai mendaki hingga akhirnya mencapai anak tangga terbawah. Entah ada berapa anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai puncaknya, namun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada anak tangga yang harus dilalui jika mendekati kawah gunung Galunggung di Tasikmalaya-Jawa Barat.

Badai pasir ternyata tidak hanya menyerang di bawah, di ataspun berkali-kali kami harus menutup  muka, namun gangguan itu tak mengganggu niat kami untuk mengabadikan keindahan kawah Bromo.
Berlatarkan Gunung Batok dari puncak Bromo
Sekitar satu jam kami berdiam diri di sana, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke jeep dan melanjutkan petualangan menuju destinasi berikutnya.

Melihat kami dari kejauhan, pak Besek pun buru-buru menyalakan kendaraannya dan mendekati kami. Alhamdulillah, kali ini kami tak perlu berjalan terlalu jauh lagi.

Perjalanan membelah lautan pasir kembali, kali ini menuju Padang Savana dan Bukit Teletubies. Sayang, musim kemarau berkepanjangan menyebabkan bukit yang seyogyanya ditutupi rerumputan nan hijau membentang bak film kartun teletubies itu, kini terlihat merangas kecoklatan mendambakan hujan yang tak kunjung tiba.
Padang Savana
katanya sih, dikejauhan itu Bukit Teletabies :)
Mejeng sejenak pakai jeep pak Besek
Puas berfoto di sini, kami dibawa kembali menembus lautan pasir. Kali ini menuju sebuah area yang benar-benar berupa lautan pasir. Di kejauhan tampak beberapa turis sedang menuju jalur pendakian gunung Semeru (Mahameru), yang merupakan salah satu puncak yang diincar oleh banyak pendaki baik dari dalam maupun luar negeri, karena tantangan menaklukkannya.

Aku jadi teringat film “5 cm” yang pernah kami tonton beberapa tahun yang lalu. Walaupun dari sudut cerita benar-benar tak masuk akal menurutku, karena konon ceritanya ada lima sahabat berhasil menaklukkan puncak gunung Semeru tanpa persiapan fisik terlebih dahulu. Tapi ah sudahlah, namanya juga film, yang penting sudut-sudut pengambilan gambarnya sudah mewakili keindahan Mahameru, bagiku cukup layaklah untuk disaksikan.

Pasir Berbisik
Kembali ke destinasi Pasir Berbisik, entah kenapa tempat ini dinamakan demikian, pak Besek tak mampu menjawab dengan memuaskan. Barangkali karena  lokasi ini pernah jadi tempat shooting film “Pasir Berbisik” yang menjadi Film Terbaik pada Festival Film Indonesia 2004 atau karena jika kita diam dalam hening sejenak, maka akan terdengar suara pasir yang seolah berbisik saat tertiup angin. Tapi pada kenyataannya, aku justru mampu mendengarkan suara orang yang ada di pinggiran tebing gunung serta suara burung yang berkicau di kejauhan, daripada mendengar desisan pasir membisikkan sesuatu.

Kala kutanya Pia yang sibuk nungging berusaha untuk mendengarkan suara pasir,  rupanya tetap tak dapat didengarkan. Ah, barangkali telinga kami atau bahkan “rasa” kami yang kurang sensitif mendengarkan panggilan alam.

Seikat Bunga Abadi...
Ketika baru sampai, kami didatangi oleh seorang ibu, ia membawa sebuah tas plastik dan di tangannya ada seikat bunga. Ya, bunga itu sangat terkenal karena cukup sulit untuk memperolehnya, apalagi memetik langsung di lokasi.  Namun, si ibu itu menawarkan dengan harga sangat murah, hanya duapuluhlima ribu rupiah. Iseng kutawar limabelas ribu, akhirnya seikat bunga edelweiss pun berpindah tangan.  “Bunga abadi”, banyak orang yang menyebutnya demikian, karena ia takkan pernah layu dan sering dijadikan lambang “cinta nan abadi”.
----------------------------------
Usai mengunjungi Pasir Berbisik kami kembali ke pelataran parkir hotel untuk berganti kendaraan. Sebelum pulang, aku sempat diserang ketakutan kembali, entah kenapa firasatku tiba-tiba tak enak. Ternyata benar, mobil sesaat tak dapat distater. Kucoba menenangkan pikiran dan terus memanjatkan do’a serta mohon pengampunan Allah. Alhamdulillah, setelah beberapa kali mencoba,  akhirnya mesin menyala dan aku tak berani mematikannya hingga kami sampai ke kota Probolinggo kembali.

Kami mengambil jalur yang sama, karena aku benar-benar kuatir dengan kondisi mobil yang kurang prima. Sempat merasa agak tersesat serta hampir memutuskan balik arah, ternyata kami berada di jalur jalan yang benar. Alhamdulillah, tak sampai satu jam gerbang kota Probolinggo tampak di kejauhan.

Selepas Probolinggo, kami menuju Pasuruan. Di Pasuruan, si Mas berniat melanjutkan silaturahim ke teman Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di kota ini. Sebelum menuju rumahnya, sejenak kami beristirahat, menunaikan sholat dzuhur jama’ashar serta mengisi perut dengan semangkuk nasi soto ayam di pinggiran Masjid Al Kautsar, Pasuruan.

Aku sempat kagum pada pemilik warung soto ini, selain jualan soto mereka juga jualan bakso dan es cincau.Ternyata mereka adalah pasangan (entah suami-istri atau kakak-adik) tuna rungu! Ya, kami berkomunikasi melalui bahasa isyarat dan membaca gerakan bibir. Cukup banyak pembeli yang berkunjung, walaupun sekedar memesan untuk dibawa pulang.  Selain rasa baksonya memang cukup enak, lokasinyapun strategis di pinggir jalan raya serta di depan gerbang masjid terkenal.

Sengaja kami memilih menikmati kuliner pinggir jalan, selain menghemat waktu untuk memesannya, yang paling penting menghemat pengeluaran. Untuk dua mangkuk nasi-soto, tiga mangkuk bakso bakwan serta lima gelas es cincau, aku hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 67.000,-. Benar-benar menu yang mumer alias murah meriah.

Sebelum mampir ke teman SPG si Mas, kami harus ngedrop si Amir di Terminal Bis Untung Suropati Pasuruan. Amir akan menuju Surabaya karena dia sudah ada janji dengan teman-teman Railfans di Surabaya. Begitulah si Amir, komitmennya memang sangat tinggi.

Di rumah mbak Nurjanah, teman SPG si Mas yang kini menjadi guru di sebuah SMK di Pasuruan kami disambut sangat baik. Sudah hampir 30 tahun tidak ketemu. Kami berdiskusi banyak hal, tentang keluarga, tentang pengalaman hidup, dsb.

Menjelang isya’ kami mohon pamit. Kami pulang melewati rute Bangil lagi. Pia berkeras untuk mengambil kaos kakinya yang ketinggalan di rumah Mak Kah di Watulunyu. Ketika solat dzuhur di musholah samping rumah Mak Kah kemarin, tanpa sadar kaos kaki Pia ternyata ketinggalan. Pia sadar kaos kakinya ketinggalan ketika berada di rumah Mbak Ani di Probolinggo. Beruntung Mak Kah telah mengamankan kaos kaki kesayangan Pia. Perjalanan dilanjutkan dengan mengembalikan mobil kepada si empunya, Mas Santoso. Kami ditraktir makan ayam bakar di rumahnya. Masya Allah, sudah dipinjemi mobil, dijamu makan malam nan maknyus, eh masih diantar pulang lagi. Makasih banyak, mas Santoso. Semoga Allah membalas semua kebaikan mas sekeluarga. Aamiin.
----------------------------------
Tak terasa, hari semakin larut. Petualangan dua hari ini kami akhiri dengan sangat indah. Tak henti puji syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu ya Allah. Semua urusan dilancarkan dan dimudahkan. Alhamdulillah.

Sebelum memejamkan mata, dalam do’a jelang tidur terselip sebuah permintaan, kelak aku akan kembali mengunjungi Bromo, kali ini ke Penanjakan, melalui jalur yang berbeda dengan tantangan yang lebih menarik tentunya... Semoga do’aku dikabulkan, entah kapan.. aamiin...
----------------------------------

RaDal, 15’09’15 (23’13)

*ini cerita sebelumnya yaa...
* Nah, ini cerita lanjutannya...

#turiskere
#ngebolang
#backpacker
#familybackpacker
#bromo
#wisatadibromo
#destinasidikotaprobolinggo

5 komentar:

anne adzkia mengatakan...

Aah sedih deh kalo tempat keren trus banyak sampahnya. Mengapa oh mengapa? *gemesdankesell*

Gina Hendro mengatakan...

Itu sampah bekas upacara "kasodo" beberapa hari sebelumnya...

Gustyanita Pratiwi mengatakan...

Berdebuu gitu ternyata ya mb bromonitu, aku suka pnasaran ama isi kawahnya

Istiana Sutanti mengatakan...

Haduh, mupeng banget deh. Mau ke sini gk jadi jadi melulu, huhu

Gina Hendro mengatakan...

@mb Gutyanita: pas kami datang sedang ada badai pasir. Badannya jadi penuh pasir deh hingga ke dalam-dalam. Pasirnya super halus dan kebawa pulang. hehe

@mb Istiana: Hayuk direncanakan. kemarin saya juga semi maksa ke sananya. :)

Posting Komentar