RSS

SENSASI BEKAM dan TERAPI LINTAH

Ilustrasi: manjaddawajadda.wordpress

"Hahaha... beneran si Beckham bekam? Awas loh ya...xixixi..."

Setelah kemaren saya memposting tentang pengalaman berbekam dan mencoba terapi lintah, banyak yang memberikan tanggapan beragam. Ada yang penasaran, ada yang terheran-heran lebih banyak yang "gilo" -bhs jawa-, artinya geli alias takut-takut gimanaaa gitu... Apalagi jika melihat ilustrasi foto yang saya pajang, sang jawara bola "David Beckham" nampang dengan gagahnya. Tubuh penuh lingkaran bekas bekam (bahkan ada beberapa mangkuk bekam masih menempel di bahunya). Penasaran? Lihat dan ituuu (gambar di atas) ada barbuk (barang bukti), Beckham sedang dibekam... Hmmm, kira-kira sang terapis sadar gak ya, sedang menangani orang terkenal seantero jagad persepakbolaan?

Padahal sebelum saya menuliskan pengalaman itu, saya sudah share status di fesbuk, tanggapannya ya serupa tapi tak sama.  Biar gak penasaran, tentang sensasi berbekam, terutama serunya terapi lintah, saya cerita lagi deh, detailnya...
-----------

Kembali ke cerita awal. Suatu hari (ehm, gak usah pakai kata "pada", nanti disangka anak kecil yang sedang belajar bercerita...hehehe), saya ditawari teman untuk mencoba produk baru di klinik perawatannya. Apakah itu? Yak! Terapi Bekam dan Terapi Lintah (sebelumnya, produk teman ini fisioterapi kesehatan).

Bekam? Hampir semua orang tahu dan banyak yang pernah melakukannya. Demikian pula dengan saya. Sudah dua kali saya dibekam, pertama oleh kakak dan kali kedua oleh istrinya, alias kakak ipar saya. Jujur, saya kurang puas dan tidak merasa lebih baik kondisinya setelah dibekam oleh mereka. Entah karena saya tidak percaya dengan kemampuan "terapis abal-abal" ala mereka, atau memang saya lebih percaya dan lebih mantab rasanya kalau dikerik/dikerok, daripada dibekam.

Jadi, begitu teman saya, si pemilik klinik tersebut menawarkan produknya terbarunya untuk saya coba (dengan harapan dipromosiin pastinya :-D), tanpa perlu mikir dua kali, langsung saya terima (kapan lagi bisa berobat gratis...hehehe).

Lucunya, ketika sang terapis menanyakan keluhan yang saya rasakan, ya saya jawab "Gak ada keluhan apa-apa." Lha saya kan ke sana dalam keadaan sehat wal 'afiat tak kurang suatu apapun. Akhirnya, diputuskan, saya akan menerima sembilan titik dari pinggang hingga leher untuk ditempeli mangkuk-mangkuk bekam.  

Seperti yang sudah saya ceritakan di sini , kegiatan bekam diawali dengan pijatan lembut, pukulan sapu rotan, dilanjutkan usapan mangkuk bekam dari atas ke bawah dan sebaliknya, hingga urat-urat di punggung sudah cukup rileks untuk menerima proses terapi selanjutnya. Tak ada rasa sakit, justru perasaan nyaman mulai menjalari seluruh tubuh.

Ketika tusukan jarum mulai menghunjam dan mencacah kulit punggung, barulah terasa slekit-slekit, geli-geli sakitseperti digigit nyamuk kecil namun terus menerus. Terasa agak perih, ketika tusukan mengenai kulit yang sensitif dan lebih tipis. Selanjutnya kulit akan tertarik kala mangkuk bekam ditanamkan di punggung, dengan cara divacum dengan pompa khusus. Separuh nyengir, saya menahan dan berusaha menikmati sensasi itu. Hingga akhirnya, kesembilan mangkukpun bersemayam dengan indahnya di bagian belakang tubuh saya.

Rupanya saya tertidur (hebat kan, tidur dalam posisi tengkurap dengan mangkuk-mangkuk kecil mencengkram kulit punggung?). Dalam kondisi saya setengah sadar, sang terapis kembali menghampiri untuk melepaskan mangkuk-mangkuk itu dan mengoleskan minyak zaitun ke bekas lukanya.  

Alhamdulillah, prosesi terapi bekam sudah selesai. Setengah keliyenan, saya berusaha bangun. Setelah ditensi, ternyata tekanan darah saya sempat drop, 100/60. Pantas, kepala agak pusing dan mata berkunang-kunang. Saya memang penderita tekanan darah rendah. Kata sang Terapis, penderita hipotensi seperti saya, tidak apa-apa melakukan terapi bekam, asal tidak lebih dari sembilan titik setiap kali melakukan terapi, serta tidak dalam keadaan kekeyangan. Jadi, kalau berniat mau bekam, jangan makan sesaat sebelumnya. Paling baik memang dalam keadaan berpuasa. 
-----------
Terapi bekam usai sudah, namun saya masih menyimpan rasa penasaran dengan Terapi Lintah. Berdasarkan info yang pernah saya peroleh, lintah sangat banyak manfaat dalam kesehatan, salah satunya karena air liurnya mengandung zat hirudin, yang berfungsi sebagai anti koagulan, alias zat yang dapat memperlancar aliran darah yang tersumbat, juga mengandung penisilin, anti radang dan zat anestesi/bius. Tentang manfaat lintah, dapat dibaca di postingan saya sebelumnya.

Aslinya saya itu paling geli dengan hewan melata yang lembek dan basah...Hiiii... Kodok, cicak, tokek, ulat, cacing dan siput, itu salah enam dari hewan kecil yang paling saya jauhi. Tetapi, karena rasa penasaran yang lebih besar, saya ikhlas saja punggung saya ditempeli hewan kecil lembek dan basah, sang penghisap darah.

Pertama, terapis menentukan titik yang akan dijadikan tujuan penghisapan, dengan cara menekan-nekan area yang perlu diterapi. Setelah ditemukan, kemudian titik tersebut disayat, hingga darah keluar, untuk memancing sang lintah yang sedang asik tidur itu terbangun dan siap menghisap. Dengan lembut dan penuh sifat keibuan lintah, terapis membujuk sang lintah untuk memulai prosesi "Bangun sayang, makan siang dulu yaa...kamu lapar kan?". Setengah geli mendengar bujukannya ke si lintah yang pemalas, saya pun merilekskan diri, biar si lintah cepet menempel.

Sekali...dua kali...dicacah lagi biar darahnya agak banyak keluar, si lintah tetep malas menghisap. Alhamdulillah, diusaha yang ketiga, akhirnya dia bersedia menghisap dan menempel di punggung saya. Kali ini memang hanya satu lintah yang digunakan (namanya juga uji coba...hehehe)


Ini hanya ilustrasi dan obyeknyapun  bukan saya...
*ehm, kalo saya berani gak yaaa? hiiii....

Setiap si lintah menyedot, terasa seperti tertarik. Namun, entah karena si lintah lagi malas, atau karena area yang mau diobati penuh dengan timbunan lemak, setelah menanti selama dua jam, si lintahpun rela melepaskan diri, walau ukuran tubuhnya tidak banyak berubah, alias tidak banyak darah yang berhasil ditransfusi ke si lintah :-p

Prosesi terapi diakhiri dengan mengoleskan alkohol di luka bekas hisapan sang lintah.Selesailah sudah kegiatan terapi bekam dan terapi lintah hari ini... Idealnya, terapi bekam dilakukan minimal 2x sebulan, sedang terapi lintah setiap pekan, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sebagai salah satu upaya pengobatan alternatif.

Rasulullah saw sendiri melakukan terapi bekam sebagai salah satu upaya untuk mengobati dirinya, serta sangat menganjurkannya. Ternyata terapi bekam telah dikenal semenjak 4000th sebelum masehi, diawali oleh bangsa Sumeria di Babilonia (Irak) yang telah mempraktekkan bekam untuk mengobati para raja. Pada tahun 3000 SM, bangsa Persia mulai mengembangkan pengobatan bekam, yang kemudian diikuti oleh bangsa Cina, yang mempraktikkan bekam dengan mengandalkan titik akupuntur. Bahkan, di Mesir era Fir'aun, sekitar tahun 1200SM dan era Nabi Yusuf, masyarakatnya telah mahir melakukan bekam. Bangsa Yunani dan Romawi pun rupanya tak mau ketinggalan, mengembangkan bekam dengan memahami titik-titik tubuh yang perlu dikeluarkan darahnya.

Walau sempat tidak populer akibat demikian berkembangan ilmu kedokteran modern, akhirnya Terapi Bekam, yang kini lebih dikenal sebagai salah satu metode pengobatan ala Rasulullah, alias Tibbun Nabawi, kembali diminati oleh masyarakat, untuk melakukan pengobatan secara natural dan Islami.
-----------
Nah, setelah panjang, lebar kali tinggi saya menjelaskan tentang  sensasi pengobatan alternatif ala bekam dan terapi lintah, sekarang apakah sudah berani melakukan terapi tersebut? Yuuuk, mari kita kembali ke alam, sudah terlalu banyak zat kimia mencemari tubuh kita. Jangan semakin diperparah dengan mengkonsumsi obat-obatan kimia jika terkena penyakit.

Bagaimana? Tertarik serta ingin mencoba terapi bekam dan terapi lintah di tempat yang aman dan nyaman? Kunjungi saja RUMAH SEHAT BINABU, di Jl. Dewi Sartika, no. 198. Pelayanannya yang profesional dan ramah, akan mempermudah kesembuhan anda.
-----------
RaDal, 140914 (12'08)




   















4 komentar:

Rita Asmaraningsih mengatakan...

Aku blm pernah coba melakukan terapi bekam.. Tetapi pernah lihat orang yang dibejam memakai alat khusus.. Sampe berdarah2.. Nah pas lihat ada darahnya itu aku jadi ngeri.. Katanya sih itu darah kotor yg dikeluarkan melalui pori2 kulit.. Kalau terapi lintah aku blm pernah lihat.. Membayangkannya aku ngeri2 geli, hehe.. Kalau ditawarin aku pasti nolak.. Soalnya dulu waktu kecil pernah punya pengalaman digigit lintah..

Gina Hendro mengatakan...

Bekam itu ada bekam basah dan kering. Nah yang basah, emang kudu ngeluarin darah, aslinya itu darah penyakit. melalui bekam penyakit dikeluarkan lewat darah.
Kalo terapi lintah, aslinya saya juga geli, btw setelah dilakoni, ternyata gak terlalu menjijikkan koq :-D

Rina Susanti mengatakan...

kalau di suruh milih mending di bekam daripada terapi lintah, kebayang jiji n gelinya...

Gina Hendro mengatakan...

hehehe... wajar koq mb Rina... Sebenarnya lintah gak menggelikan dan menjijikkan, anggap saja seperti cicak *hayyah, saya malah lebih gilo cicak daripada lintah. denger kata "cicak" aja udah begidik...hiiii...

Posting Komentar